
Setelah Zelina terlelap tidur, tanpa di sadari ia memimpikan ibunya yang sedang terbaring lemah dirumah sakit. Seketika ia sontak terbangun dan berkata “Ibuuu.. ” dengan nada shock. Zelina hanya mengambil nafas panjang dan kembali tidur.
Pagi pun telah tiba, suasana pagi ini begitu sangat sejuk dan berawan. Zelina melakukan aktivitas seperti yang biasa Raya lakukan. Ia pergi ke sekolah menaiki angkutan umum, karena orangtua Raya sudah pergi terlebih dahulu untuk urusan pekerjaan. Ya begitulah kehidupan Raya, walaupun Raya adalah anak orang kaya tetapi, Raya sangat jarang sekali mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari sosok orangtua.
Setibanya di sekolah,Zelina bertemu dengan satpam yang sedang berjaga di pintu gerbang sekolahnya. Dengan ramah Zelina menyapa, “Selamat pagi pak Budi”, ” selamat pagi nak Raya” sahut pak Budi, Zelina langsung menuju kelasnya. Setiba di kelas, ia tidak menemukan sosok ibunya Zeneb. Karena Raya adalah anak baru di sekolah tersebut, ia langsung menanyakan Zeneb kepada temannya.
“Lusi, kamu lihat Zeneb tidak? Ko tumben sekali dia belum sampai di sekolah. “
Temannya langsung menengok ke arah Zelina, “biasanya setiap pagi Zeneb jualan dulu”. Raya langsung memasang muka yang bingung, “hah jualan? Dimana? Apakah dia tidak takut terlambat datang ke sekolah?”.
Temannya langsung menyaut “Biasanya dia berjualan kue di dekat kantin sekolah”.
Tanpa banyak bertanya, Zelina langsung pergi menuju kantin. Matanya selalu memperhatikan setiap sudut di kantin, “dimanakah ibuku Zeneb?.. ” ia bertanya-tanya dalam hati.
Tak lama, ia melihat kerumunan anak sekolah dan ternyata di balik kerumunan tersebut terdapat sosok ibunya (Zeneb) dan ayahnya (Zafran) sedang berjualan kue. Zelina langsung menghampirinya. “Zeneb, sedang apa kamu disini? ” tanya Zelina. Zeneb pun langsung menoleh ke arah Raya (Zelina) “eh Raya, aku lagi jualan kue nih di temenin sama Zafran” jawab Zeneb. “wahh kalian pasangan yang sangat serasi yaa..” ucap Zelina sambil menyenggol siku ibunya Zeneb. . Zeneb langsung memasang wajah yang tersipu malu. Tak lama Zafran pun menimbrung “hai Raya..ini kue untuk kamu enak loh buatannya Zeneb”. Zelina pun langsung mengambil kue yang diberikan Zafran dan memakannya.
Seketika Zelina teringat oleh ibunya. Waktu itu ibunya Zeneb, pernah membuatkan brownies saat Zelina berulang tahun di umur 17. Rasa brownies yang dimakan sama seperti brownies yang dibuatkan ibunya waktu itu.
Zelina termenung sejenak dan Zeneb pun langsung menegornya “hei Raya, ko diam, gaenak ya brownies buatanku? “
Zelina pun terkejut “ehh engga ko, ini enak banget. Sama persis rasanya seperti buatan ibuku”. Pipi Zeneb memerah “Hehehe makasih Raya, kapan-kapan kamu akan kubuatkan brownies khusus”. Raya pun tersenyum. Raya, Zeneb, dan Zafran pun langsung menuju kelasnya.
Selama pelajaran berlangsung, Zelina sangat tidak fokus. Ia selalu terngiang-ngiang tentang ibunya.
“bagaimana keadaan ibu sekarang? Apakah sudah pulih? Apakah ibu sudah mengingat semuanya? “. Semua pertanyaan itu seketika muncul di benak Zelina.
“Raya.. Kamu kenapa? “.. Tegor Zeneb.
“hmm.. Engga ko, aku hanya Melamun saja” jawab Zelina. “Pagi-pagi tidak baik melamun, lihat itu Pak Dodi datang”. Pak dodi adalah salah satu guru kemahasiswaan di sekolahnya. “Baik anak-anak disini saya akan mengumumkan tentang siswa yang akan mengikuti lomba Olimpiade tingkat nasional yaitu, Zeneb Ralein”. Sontak semua tepuk tangan dan Zelina pun terkejut. Ternyata ibunya dulu sama seperti dia, dipilih untuk mengikuti lomba olimpiade tingkat nasional.
Zeneb pun memeluk Raya (Zelina) dengan wajah terharu. Zelina sangat terkejut saat sang ibu (Zeneb) memeluknya dengan erat.
Setelah kegiatan sekolah selesai, Zelina langsung pulang kerumahnya, setibanya dirumah ia langsung memasuki kamarnya. Ia merenungkan tentang ibunya, tak di sangka air matanya pun jatuh membasahi pipinya.
Cerita Selanjutnya.. 👉